Kampung Bekelir, Eks Hunian Kumuh yang Kini Layak Jadi Latar Foto

Liputan6.com, Tangerang – Dahulu kampung yang berada bantaran Sungai Cisadane, Tangerang. Tepatnya di lingkungan RW 01 Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, divonis Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Kesehatan RI masuk dalam kategori kumuh.

Ironis memang. Pasalnya, wilayah kampung tersebut berada di jantung kota Tangerang. Namun kini, pemandangan jauh berbeda ditemukan di kampung tersebut.

Ratusan rumah penduduk sekitar dicat penuh warna. Dari atap rumah, pagar, hingga tembok dihias dengan mural dan graffiti tematik yang bercerita tentang sejarah dan kearifan lokal.

Dinding rumah di masing-masing lorong mengusung tema tak sama. Jadilah ratusan mural dan graffiti yang indah dipandang mata di kampung yang kini dinamakan Kampung Bekelir.

“Konsep gambar yang ada di Kampung Bekelir mengangkat kearifan lokal, makanya gambar-gambar yang ada seperti tari legang Cisadane, perahu Cacing, ada laksa, ada bandara Soekarno Hatta, dan banyak lagi,” kata Lurah Babakan Abu Sofiyan di Tangerang, Minggu, 30 September 2018.

Lingkungannya di kampung ini jauh lebih bersih dan ditata dengan baik dengan berbagai aksesori yang juga penuh warna. Maka tak mengherankan, kampung seluas kurang lebih 4 hektare yang dihuni 375 kepala keluarga itu sekarang menjadi objek wisata yang menarik wisatawan.

“Pencanangannnya 17 September 2017 sama Pak Wali Kota dalam rangka menata kampung yang dulu disebut kampung kumuh, nama programnya PHBS, yaitu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Berangkat dari situ, alhamdulillah warga kompak mau mengubah,” kata Abu Sofiyan.

Untuk mengubah kampung yang dahulunya kumuh tersebut, dikatakan Abu Sofiyan, menelan biaya sekitar Rp 1 miliar. Dana tersebut bukan diambil dari dana APBD melainkan dari dana corporate social responsibility (CSR) sebuah perusahaan yang ada di Kota Tangerang.

“Untuk mengubah kampung ini jadi bekelir dibutuhkan 10 ribu liter cat, seribu pilok, seribu kuas, dan ada puluhan seniman yang ikut membantu menggambar,” kata Abu Sofiyan.